makalah pelapisan logam



BAB I
PENDAHULUAN
A.       Latar Belakang
Kemajuan teknologi dan berkembangnya kegiatan industri dapat membawa dampak positif maupun dampak negatif. Salah satu contohnya adalah industri pelapisan logam. Beberapa komponen logam memerlukan pelapisan logam yang dapat melindungi komponen logam agar lebih menarik penampilannya atau lebih tahan tehadap korosi dan keausan. Dampak negatif dari kegiatan industri pelapisan logam akan menghasilkan limbah berbahaya yang dapat menjadi permasalahan yang kompleks bagi lingkungan sekitarnya. Limbah industri yang tidak dikelola dengan baik dan benar dapat mengakibatkan  pencemaran lingkungan (Noor Anis Kundari dkk, 2009:694). Limbah cair yang dibuang ke perairan akan mengotori air yang dipergunakan untuk berbagai keperluan dan mengganggu kehidupan biota air. Limbah padat akan mencemari tanah dan sumber air tanah.
Industri pelapisan logam dalam proses produksinya menggunakan bahanbahan kimia. Bahan-bahan kimia yang digunakan dalam industri pelapisan logam adalah bahan beracun sehingga limbah yang dihasilkan berbahaya bagi kesehatan manusia baik yang terlibat langsung dengan kegiatan industri maupun yang di sekitar perusahaan. Limbah cair industri pelapisan logam umumnya banyak mengandung logam-logam berat sehingga limbah cair ini harus diolah terlebih dahulu sebelum dibuang melalui aliran sungai agar kandungan logam-logam didalamnya berkurang.
Industri yang mengolah limbah cairnya sendiri dapat menghasilkan limbah padat yang umumnya berbentuk endapan. Endapan ini biasanya bersifat racun, sehingga pengumpulan dan pembuangannya perlu mendapat perhatian yang khusus. Sumber utama limbah padat suatu industri dibagi dalam tiga kategori yaitu limbah padat proses industri, limbah padat hasil pengolahan limbah cair, dan limbah padat hasil pengolahan emisi udara (Surna, 1989). Limbah padat hasil pengolahan limbah cair industri pelapisan logam (sludge) masih banyak mengandung logam-logam berharga antara lain seperti nikel, krom, tembaga, besi, seng, aluminium, disamping itu logam-logam tersebut sangat berbahaya bagi lingkungan hidup. Sampai saat ini sludge belum dimanfaatkan dan masih menjadi masalah bagi industri pelapisan logam, tidak hanya karena kandungan logamlogam yang tinggi tetapi juga kuantitas sludge cukup besar (Edi H dan Sumantri S, 1996:228).

B.        Rumusan Masalah
1.      Apa yang dimaksud dengan logam ?
2.      Dari manakah logam dihasilkan ?
3.      Bagaimana proses pengolahan pelapisan logam ?
4.      Limbah apa yang dominan dihasilkan dari pengolahan pelapisan logam ?
5.      Bagaimana mengolah limbah hasil pelapisan logam ?

C.        Tujuan Penulisan
Adapun tujuan yang ingin dicapai dari penyusunan makalah ini adalah :
1.      Untuk Mengetahui pengertian logam dan sumber logam
2.      Untuk mengetahui proses pelapisan logam
3.      Untuk mengetahui limbah yang dihasilkan dari pelapisan logam dan cara mengolah limbah hasil pelapisan logam







BAB II
PEMBAHASAN
A.       Pengertian Dan Sumber Logam
Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar listrik dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi.
Bijih logam ditemukan dengan cara penambanganyang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur. Bijih logam yang ditemukan dalam keadaan murni yaitu emas, perak, bismut, platina, dan ada yang bercampur dengan unsur-unsur seperti karbon, sulfur, fosfor, silikon, serta kotoran seperti tanah liat, pasir, dan tanah.
Bijih logam yang ditemukan dengan cara penambangan terlebih dahulu dilakukan proses pendahuluan sebelum diolah dalam dapur pengolahan logam dengan cara dipecah sebesar kepalan tangan, dipilih yang mengandung unsur logam, dicuci dengan air untuk mengeluarkan kotoran, dan terakhir dikeringkan dengan cara dipanggang untuk mengeluarkan uap yang mengandung air.

B.       Proses Pelapisan Logam
Pelapisan logam merupakan pengendapan satu lapisan tipis pada suatu permukaan logam atau plastik yang biasanya dilakukan secara elektrolit, tetapi dapat juga hanya menggunakan reaksi kimia.
a)      Bahan Baku dan Penunjang
Ø  Bahan baku : logam yang akan mengalami proses pelapisan logam
Ø  Bahan penunjang :
v  Air
v  Pelarut (benzena, trikloroetilen, metil klorida, toluene, karbon tetra klorida/CCl4, Natrium karbonat, kostik, sianida, boraks, sabun,asam sulfat,asam hidroklorida, dsb.
b)      Proses Pengolahan
Adapun proses pengolahan pelapisan logam dapat ditunjukkan oleh diagram balok berikut :


Gambar.1 skema pelapisan logam

1)      Pada tahap awal operasi pelapisan logam, logam di bersihkan dari lemak dengan menggunakan pelarut anatara lain : benzena, trikloroetilen, metil klorida, toluene dan carbon tetraklorida. Kemudian logam selanjutnya dibilas dengan air untuk menghilangkan lemak dan pelarut yang tersisa
2)      Untuk pembersihan logam lebih lanjut, logam dapat dibersihkan menggunakan larutan basa misalnya : natrium karbonat, kostik, sianida, boraks atau sabun. Kemudian logam selanjutnya di bilas.
3)      Logam yang telah bersih kemudian di bawa ke proses pengasaman atau pengupasan untuk menghilangkan kerak atau karat dari logam. Pengasaman menggunakan larutan asam sulfat atau asam klorida. Proses pengupasan yang terbaru adalah menggunakan pembersih elektrik yang dilakukan dengan penangas alkali
4)      Dalam proses pelapisan terbagi dua yaitu :
v  Pelapisan tanpa listrik, suatu lapisan dilekatkan pada plastik atau logam dengan daya katalis atau pemindahan.
v  Dalam pelapisan elektrik, logam berfungsi sebagai katoda dalam sel elektrolisis sementara ion logam diberikan oleh anoda atau garam logam. Garam logam yang umunya digunakan adalah : tembaga, nikel, kromium, seng, asam, alkali, sianida, kadmium, timbal, timah, emas, perak, platina.
Pada proses pelapisan inilah terjadi pengendapan satu lapisan tipis oksida (dalam hal ini adalah garam logam) pada permukaan logam. Kemudian setelah tahap ini selesai, logam dibilas dapat dengan menggunakan penangas tetap, penangas mengalir, atau pembilasan semprot.

C.       Limbah Hasil Pelapisan Logam
Beberapa zat berbahaya dari  metal finishing wastewater adalah :
Ø  Metals : Aluminium, cadmium, chromium, cobalt, copper, iron, lead, nickel, silbver, tin dan zinc.
Ø  Ions ( anion dan cations ) : Ammonium, chromate, cyanide, fluorid, nitrite, hypophosphites, phosphites and phosphates, sulphide.
Ø  Elements dan senyawa-senyawa organic : Chlorine, senyawa hydrocarbon y ang mengandung halogen dan hydrocarbon  seperti mineral oil, petroleum, benzene dan benzol, senyawa organik dan anorganik yang membutuhkan oxygen ( COD ).

Adapun sumber lmbah dari industri pelapisan logam antara lain :
1.      Pembuangan lemak dengan pelarut membuat pelarut itu sendiri menjadi limbah. Kebanyakan pelarut ini berbahaya bagi lingkungan.
2.      Larutan alkali pembersih mengandung padatan tersuspensi, lemak sabun dengan tingkat pH yang tinggi.
3.      Pengasaman menghasilkan pembuangan larutan asam secara berkala, larutan asam buanan, dan air bilasan dengan pH rendah.
4.      Pelapisan logam biasanya mengandung sianida dan logam yang dilapisi
5.      Air bilasan yang biasnya mengandung pelarut-pelarut dan logam-logam yang digunakan. Sember utama air limbah adalah larutan pembilasan yang agak encer dan sering mengandung 5mg/l – 50mg/l ion logam beracun.
6.      Limbah padat dari hasil pengolahan air buangan berbentuk lumpur. Hasil lain adalah dari perolehan kembali larutan, logam dan endapan saringan.

D.       Proses pengolahan limbah pelapisan logam
a.       Pengolahan Limbah padat
Setelah presipitasi dari logam-logam maka air limbah mengandung lumpur metalhydroxides atau metalsulphides dan senyawa-senyawa lainnya yang tidak larut yang terbentuk selama pengolahan berlangsung. Lumpur ini harus dipisahkan oleh peralatan pemisah lumpur, biasanya yang digunakan adalah filter press. Kekeringan yang diperoleh dari filter cake dapat mencapa 30 – 40 % DS dan 60 –70 % air.
Limbah padat mengandung semua logam berat beracun yang berasal dari operasi pelapisan, dan harus ditangani dengan hati-hati. Endapan hidroksa logam dapat larut kembali jika terkena air hujan pada pH 5,5 sampai 6,5. lumpur harus dihilangkan airnya dengan menggunakan saringan bertekanan, saringan sabuk, atau unggun pasir pengering. Lumpur yang sudah dihilangkan airnya disimpan pada tempat tertutup sampai ditemukan tanah yang aman dan dapat mencegah penyebaran logam karena kebocoran.

b.      Pengolahan limbah cair
Pengolahan limbah dalam industri pelapisan diutamakan pada penghilangan logam, asam, alkali, sianida dan kadang-kadang pelarut yang membahayakan lingkungan. Biasanya limbah dipisahkan antara : limbah yang mengandung sianida, limbah mengandung krom dan limbah lainnya (logam, asam dan alkali)
1)      Sianida dihancurkan dengan oksidasi. Klorinasi basa dengan menggunakan kostik dan kemudian klor(gas clor atau hipoklorit) adalah cara efektif dengan penambahan tiosulfat untuk penghilangan klor.  Ozonisasi biasanya juga digunakan dimana penghancuran lami dengan menggunakan oksigen dari uadara di dalam kolam-kolam yang tersedia.
2)      Krom dapat dihilangkan setelah direduksi menjadi bentuk bermartabat tiga yang kurang beracun. Pada pH rendah belerang dioksida, natrim bisulfit, ferosulfat atau metabisulfat dapat digunakan untuk mereduksi krom bermartabat enam. Larutan krom ini biasanya dicampur dengan larutan sianida yang telah diolah dan limbah pelapisan lainnya untuk diolah
3)      Logam diendapkan pada pH tinggi dengan penambahan kapur dan/atau kostik. Logam yang berbeda mengendap pada pH yang berbeda antara 8-11, sehingga agar pengolahan berlangsung efektif, perlu dilakukan dalam beberapa tahap. Masing-masing satu tahap pada pH tertentu dengan penambahan lumpur pada akhir setiap tahap. Zat Bantu penggumpal seperti feriklorida, tawas dan polielektrolit sering digunakan untuk pemisahan zat padat-cair. Penjernihan perlu dirancang dengan benar agar lumpur hidrolisa logam dapat dipisahkan dengan tuntas.

Pada pengolahan limbah cair ini, pengolahan untuk skala kecil biasanya secara batch.Dulu pengolahan limbah electroplating sangat banyak menggunakan sistem kontinyu, dimana air limbah diolah tahap demi tahap pada proses yang berbeda. Selain pH dan Redox maka pemeriksaan terhadap parameter lainnya hanya dapat dilakukan secara sesaat yang tidak memberikan gamberan keseluruhan mengenai karakter air limbah. Sehingga kontol terhadap parameter tidak memberikan keadaan yang sebenarnya.
Maka dengan sistem batch akan tercapai kontrol yang sangat mewakili.. Air limbah diolah secara btch dalam satu tangki, reaksi kimia yang diperlukan dilakukan tahap demi tahap. Pada akhir proses maka hasil pengolahan dapat diperiksa, hanya bila harga parameter sudah dibawah ambang batas maka air limbah dapat dibuang ke badan penerima dan lumpur dapat diolah ke filter press. Sehingga setiap tetes air dapat diperiksa dan semua kegagalan dapat diatasi dengan cepat. Tetapi kebnyakan sistem ini digunakan hingga kapasita 10 – 20 m3/hari.

 




BAB III
PENUTUP
A.       Kesimpulan
Dari pembahasan diatas,dapat diketahui bahwa Logam adalah unsur kimia yang mempunyai sifat-sifat kuat, liat, keras, penghantar listrik dan panas, serta mempunyai titik cair tinggi. Bijih logam ditemukan dengan cara penambanganyang terdapat dalam keadaan murni atau bercampur.
Pelapisan logam merupakan pengendapan satu lapisan tipis pada suatu permukaan logam atau plastik yang biasanya dilakukan secara elektrolit, tetapi dapat juga hanya menggunakan reaksi kimia.dari pelapisan logam ini limbah dominan yang dihasilkan adalah limbah cair yang dapat diatasi dengan metode batch.

B.       Saran
Penulis berharap agar setiap sektor industri dapat mengatasi limbah insudtri yang dihasilkan agar tidak menyebabkan kerusakan lingkungan dan menggangu aktivitas masyarakat sekiar sektor industri yang bersangkuta.



DAFTAR PUSTAKA

http//.penanganan-air-limbah-dari-industri.html
http//.Industri dan Limbah Pelapisan Logam _ fatysahinknowledge.htm
http//.penanganan-limbah-industri-yang.html


makalah industri kayu



BAB I
PENDAHULUAN

A.      LATAR BELAKANG
                 Pembangunan sektor industri memegang peranan strategis dan harus mampu membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi Indonesia. Hal ini berarti bahwa sector industri di dalam perekonomian nasional berperan sebagai motor penggerak utama bagi pertumbuhan sector-sektor utama lainnya lewat keterkaitan produksi ke belakang (backward production linkage) maupun ke depan (forward production linkage) (Amril, 2003).
           Salah satu industri pengolahan kayu adalah industri penggergajian kayu. Pengggergajian adalah suatu unit pengolahan kayu yang menggunakan bahan baku dolok, alat utama bilah gergaji, mesin sebagai tenaga penggerak, serta dilengkapi dengan berbagai alat dan mesin pembantu. Penggergajian disebut juga sebagai proses pengolahan kayu primer karena yang pertama dilakukan adalah mengolah dolok menjadi kayu persegian yang bersifat setengah jadi dan selanjutnya diolah oleh pengolahan kayu sekunder dan tersier untuk barang jadi (Dephutbun RI, 1998).
Ketika pasokan kayu bulat yang berasal dari hutan alam produksi mengalami penurunan sementara pasokan kayu dari HTI belum dapat diandalkan, maka pembangunan hutan rakyat sekarang diharapkan dapat berperan penting sebagai pemasok kayu baik untuk kebutuhan industri dalam negeri maupun ekspor. Mengingat pentingnya keberadaan hutan rakyat sebagai sumber daya hutan dan ekonomi maka pengembangan hutan rakyat semakin mendapat perhatian. Departemen kehutanan berdasarkan arah pembangunan jangka panjang kehutanan 2006 - 2025 telah mencantumkan program peningkatan luasan hutan rakyat yang mandiri dan mendukung fungsi hutan sebagai penyangga kehidupan dan kesejahteraan masyarakat (Daryanto, 1987).
Kegiatan survei industri penggergajian bertujuan untuk mengetahui ukuran industri, kapasitas produksi industri, kapasitas rendemen, mesin-mesin yang digunakan, jumlah pekerja, dan alternatif pemanfaatan limbah penggergajian yang dilakukan industri, baik di dalam industri maupun di luar industri. Oleh karena itu, keberadaan industri penggergajian penting diketahui dalam pengolahan kayu. Kota Medan merupakan salah satu kota besar yang memiliki sejumlah industri penggergajian, baik itu skala kecil, sedang, dan besar yang dapat dijadikan kawasan survei industri penggergajian.


B.   RUMUSAN MASALAH
v  Apa yang di maksud dengan kayu?
v  Dari Apa Saja Sumber Bahan Baku Kayu di peroleh?
v  Bagaimana Cara Pengolahan Kayu/pulp
v  Bagaimana Cara Penanganan Limbah Kayu?



C.  TUJUAN PENULISAN
v Untuk Mengetahui pengertian kayu.
v Untuk mengetahui Sumber Bahan Baku Kayu.
v Untuk mengetahui Cara Pengolahan Kayu/pulp.
v Untuk mengetahui Cara Penanganan Limbah Kayu








BAB II
PEMBAHASAN

A.    Pengertian Kayu
Kayu adalah bahan yang terdiri dari sel-sel. Struktur yang terdiri atas sel tersebut memberikan kayu banyak sifat-sifat dan ciri-ciri yang unik. Kerapatan adalah perbandingan antara massa atau berat benda terhadap volumenya. Kerapatan kayu berhubungan langsung dengan porositasnya, yaitu proporsi volume rongga kosong. (Koch, 1964).
Dewasa ini industri perkayuan di Indonesia semakin diminati oleh negara lain, akan tetapi karakteristik kayu yang dihendaki lebih spesifik, diantaranya kadar air yang sesuai dengan iklim pada masing-masing negara. Kadar air yang dikehendaki mencapai hingga dibawah 10 %. Keadaan tersebut tidak dapat dicapai jika pengeringan dilakukan secara alamiah, karena itu di perlukan pengeringan buatan ( Budianto, 1996).
Penggergajian adalah suatu unit kegiatan yang merubah log menjadi kayu penggergajian dengan menggunakan alat utama gergaji. Perbedaannya dengan penggergajian kayu adalah alat yang digunakan. Gergaji adalah alat membelah dan memotong kayu yang terbuat dari logam atau campuran logam yang bentuknya pipih dan mempunyai gigi banyak (Nuryawan, 2008).
Selanjutnya dapat diolah pada industri sekunder, di proses log yang bermutu rendah meskipun hasilnya tidak banyak, bisa juga kualitasnya baik. Penggergajian merupakan tahap pertama dalam urutan proses pengolahan kayu, kemajuan industri penggergajian mendorong pertumbuhan industri kayu sekunder. Peningkatan kapasitas rill salah satunya adalah kesempurnaan alat produksi dan keterampilan pekerja. Alat produksi misalnya gergaji untuk itu diperlukan saw doctoring yang memadai (Ruhendi, 1986).
Kayu gergajian didefenisikan sebagai kayu hasil konversi kayu bulat dengan menggunakan mesin gergaji, mempunyai bentuk yang teratur dengan sisi-sisi sejajar dan sudut-sudutnya siku dengan ketebalan tidak lebih dari 6 cm dan kadar air tidak lebih dari 18%, pada masa sekarang ini teknologi yang digunakan dalam industri penggergajian kayu sangat bervariasi, mulai dari yang sederhana dengan satu gergaji piring sampai dengan peralatan canggih menggunakan sistem hidrolik, pneumatik, dan eletronik.

B.     Sumber Bahan Baku
Bahan baku industri ini dimulai dengan membeli pohon-pohon buah yang dimiliki masyarakat sekitar yakni pohon Durian, Cempedak, Lamtoro (petai cina), Sengon, Jati super, Alban, Parembalang, Terap bunga, Terap batu, Mahoni, Kuini, Jati putih, Tulasan, Nangka, Cempedak, Jengkol, dan Kemiri. Apabila di sekitar tanjung anom tidak terdapat lagi pohon buah yang diinginkan ukurannya maka pemilik akan pergi ke daerah lainnya untuk mencari bahan baku tersebut misalnya daerah sembahe, pancur batu, dan sibolangit.
Berdasarkan tipe gergaji utama yang digunakan industri ini adalah band sawmill, pertimbangannya adalah menggunakan alat ini lebih efisien (lebih menghasilkan tingkat rendemen yang tinggi), praktis , dan lebih mempersingkat waktu dalam pembelahan atau proses produksi kayu. Alat gergajian yang digunakan, antara lain : Circular saw, Band saw, dan Chain saw, namun yang utama digunakan adalah band saw. Berdasarkan cara produksi, industri ini menggunakan service sawmill. Berdasarkan fungsi, industri ini tergolong resawing, karena industri ini menghasilkan bahan baku melalui industri yang lain  dan berdasarkan mobilitasnya industri UD Bintang Terang ini tergolong permanen, hal ini karena lokasinya tidak berpindah-pindah.     

C.    Prose Pengolahan pulp/kayu
  1. Pembelahan kayu (resawing)
Pembelahan kayu disini termasuk pembelahan kedua, sebab menurut pihak pengelola industri, bahan baku dibelah untuk ditentukan ukurannya. Sesungguhnya mesin dari industri ini dapat digunakan untuk membelah log atau dolok. Akan tetapi, bahan baku industri sudah berbentuk cant. Menurut Dephutbun RI (1998), cant adalah blambangan yang berbentuk setengah, sepertiga, dan seperampat yang diperoleh melalui pembelahan pertama.
  1. Meratakan kayu bagian pinggir
Istilah meratakan kayu bagian pinggir ini dikenal oleh pihak pengelola industri sebagai pembuatan siku atau menyikukan kayu. Perataan ini berguna untuk memudahkan pembentukannya dalam proses produksi lanjutan. Dephutbun RI (1998) menyatakan perataan sisi dan pemotongan ujung adalah pekerjaan yang penting yang memerlukan petugas-petugas dengan pengetahuan yang baik tentang kualitas kayu gergajian.
  1. Proses lanjutan penggergajian kayu
Proses lanjutan ini berupa membuat produk, seperti pintu, kusen, jendela, dan lain-lain. Pembuatan kusen ini melalui proses pemotongan dan pembuatan ukurannya, pembuatan dudukan, sponing (lanjutan), pemasangan, dan finishing.
Industri biasanya jarang membuat produk karena keterbatasan alat. Oleh karena itu, industri ini mengutamakan pembelahan berbagai ukuran sortimen sesuai dengan pesanan (order).


D.    Cara Penanganan Limbah
Limbah potongan kayu adalah sisa-sisa potongan kayu, seperti sisa potongan kayu furniture yang sudah tidak terpakai lagi dan memiliki ukuran serta bentuk yang bervariasi.
Limbah potongan kayu ini dapat ditemukan di pabrik-pabrik pembuatan furniture. Biasanya limbah kayu ini berupa potongan dan serpihan. Limbah potongan ini berupa papan-papan  atau potongan-potongan kecil yang masih dapat dilihat bentuknya. Sedangkan serpihan kayu merupakan sisa-sisa proses pengolahan kayu baik pemotongan maupun penghalusan yang menghasilkan bubuk-bubuk kayu. Saat ini, bubuk kayu telah banyak dimanfaatkan menjadi kayu olahan seperti multipleks, blockboard, dan sebagainya, sedangkan potongan kayu masih belum banyak dimanfaatkan (Kasmudjo, 2010 : 55).
Untuk mengolah limbah potongan kayu, langkah pertama adalah membentuk menjadi papan kayu dan kemudian diaplikasikan pada furnitur dan elemen pembentuk ruang di dalam interior.
Proses pengolahan limbah potongan kayu menjadi papan kayu antara lain:
1.  Potongan limbah kayu yang digunakan sebaiknya merupakan limbah potongan kayu yang memiliki ukuran yang hampir sama. Oleh karena itu, sebelum digunakan, sebaiknya limbah potongan kayu tersebut diklasifikasikan terlebih dahulu menjadi beberapa ukuran.
2.    Pada bagian sisi potongan kayu saling didekatkan dan diluruskan dengan potongan kayu lainnya.
3.   Bagian sisi-sisi kayu yang telah dicocokkan dan diluruskan kemudian di beri lem dan direkatkan. Terdapat dua jenis lem yang dapat digunakan, yaitu lem alteco dan lem G (waktu perekatan lebih cepat), serta lem racol atau rajawali putih (waktu perekatan cukup lama).
4.   Setelah sambungan lem kering, dan kayu telah saling merekat menjadi sebuah papan kayu, proses selanjutnya adalah pengetaman (dihaluskan dengan mesin ketam listrik). Fungsi dari proses ini selain untuk meratakan dan meluruskan, juga untuk membersihkan potongan kayu dari kotoran-kotoran ataupun sisa finishing sebelumnya. Beberapa proses ketam, antara lain:
§  Ketam perata (surface planner). Merupakan mesin ketam dua sisi yang berfungsi meratakan dua sisi papan kayu.
§   Ketam penebal (thicknesser). Merupakan mesin ketam yang berfungsi meratakan pada dua sisi dan meluruskan pada dua sisi lainnya.
§   Ukuran ditentukan sesuai keperluan, lalu papan dipotong menggunakan gergaji circle (circular saw) dengan sistem kerja gergaji mesin berada pada satu tempat dan kayu tersebut yang didorong melewati gergaji.
§  Jika tidak terdapat mesin ketam listrik, dapat menggunakan mesin ketam manual untuk meratakan dan gergaji manual untuk meluruskan. (I Made Westra, 1993 : 106)

                                   



                                   
                                                  Gambar 1. Papan Limbah Potongan Kayu
 Setelah melewati beberapa proses tersebut, limbah potongan kayu telah menjadi sebuah papan kayu yang memiliki tekstur dan warna yang berbeda-beda karena papan tersebut tak hanya terdiri dari satu jenis kayu, melainkan dari beberapa jenis kayu.

              


                         Gambar 2. Papan Limbah Potongan Kayu Ketebalan 2 dan 3 cm
Papan kayu yang terdiri dari potongan-potongan kayu tersebut kemudian dapat dimanfaatkan menjadi berbagai benda pakai pada interior suatu ruangan. Selain menambah fungsi dari limbah potongan kayu tersebut, papan limbah potongan kayu ini juga dapat menambah nilai estetis pada suatu benda. Hal ini karena papan memiliki ciri-ciri yang berbeda dibandingkan dengan papan kayu biasa. Ciri-ciri tersebut anatara lain adanya perbedaan beberapa warna kayu yang digunakan, arah serat kayu yang berbeda-beda, dan bentuk serta ukuran kayu yang direkatkan juga berbeda-beda.
Beberapa benda pakai yang dapat dibuat menggunakan papan limbah potongan kayu:
·         Elemen pembentuk ruang : partisi atau pembatas dinding, plafon, pelapis dinding, pelapis lantai.
·         Furniture : lemari pajang (storage), coffee table, Top table pada coffee table
·         Aksesoris interior (table lamp, standing lamp, kotak penyimpanan, dsb)
·         Elemen hias perabot (kursi, meja, lemari, dsb)

Finishing dilakukan pada akhir proses pengerjaan papan limbah potongan kayu ini. tujuan finishing adalah untuk menghindarkan pengaruh kelembaban udara, mencegah serangan hama dan jamur perusak, serta memperindah permukaan papan limbah potongan kayu tersebut. Kualitas hasil finishing ini dapat dilihat dari warna, kilap, kehalusan, dan sifat dekorasi (menarik, indah). (Kasmudjo, 2010 : 55)
Finishing dapat dilakukan menggunakan dua cara yaitu pengolesan dan penyemprotan. Jenis-jenis bahan yang dapat digunakan sebagai finishing tergantung pada hasil akhir yang diinginkan. Jika ingin menampakkan serat alami kayu, dapat digunakan melamic dan politur. Tetapi jika serat kayu tersebut ingin ditutupi dan menghaasilkan kayu yang halus, dapat menggunakan cat duco.
Limbah potongan kayu yang biasanya banyak dihasilkan oleh pabrik furniture tak hanya akan menjadi limbah buangan semata jika masyarakat dapat mengetahui cara pemanfaatannya agar menjadi benda yang memiliki fungsi kembali. Salah satu cara pemanfaatannya adalah dengan mengolah kembali limbah potongan kayu tersebut menjadi papan kayu yang kemudian dapat digunakan menjadi pelengkap berbagai macam elemen interior. Kayu yang biasanya banyak digunakan pada furniture seperti kayu jati, sonokeling, dan mahoni dapat dipadu padankan dan menciptakan nilai estetis.
 Limbah potongan kayu tersebut diproses kembali menjadi papan kayu dengan proses perekatan dan perataan atau pengetaman. Setelah melalui proses tersebut, limbah potongan kayu akan menjadi sebuah papan dari limbah potongan kayu yang kemudian dapat dimanfaatkan dalam interior menjadi benda pakai seperti partisi, top table, pelapis dinding, dan sebagainya.
Selain mengurangi pencemaran dari limbah, hal ini juga dapat berfungsi untuk menaikkan nilai pakai dan nilai ekonomi suatu benda, sehingga jika cara pengolahan limbah potongan kayu ini dapat diberdayakan di masyarakat, dapat juga menaikkan taraf hidup masyarakat dengan menciptakan lahan pekerjaan baru dari pengolahan limbah pabrik ini.









BAB III
PENUTUP


A.       Kesimpulan
 sektor industry kayu/pulp memegang peranan sangat penting dalam pergerak sector-sektor utama dalam produksi dan mampu membawa perubahan mendasar dalam struktur ekonomi Indonesia.



B.        Saran
Sektor industri penggergajian kayu adalah sektor yang mampu menopang perekonomian Indonesia yakni adanya pemanfaatan limbah produksi. Akan tetapi diperlukan adanya sosialisasi pemanfaatannya dalam bentuk lain dan diadakan dana pemeliharaan alat-alat yang dimiliki industry sehingga proses produksi tidak terhambat.













Daftar pustaka