A. Pengertian Kompensasi Insentif
1. Pengertian Kompensasi
Malayu S. P. Hasibuan (2005:118) mengemukakan bahwa, “kompensasi adalah semua pendapatan yang berbentuk bukan uang, barang langsung atau tidak langsung yang diterima karyawan sebagai imbalan atas jasa yang diberikan kepada perusahaan”.
Menurut William B. Werther dan Keith Davis mengemukakan bahwa “kompensasi adalah apa saja yang seorang pekerja terima sebagai balasan dari pekerjaan yang diberikannya, baik upah perjam atau gaji periodik didesain dan dikelola oleh bagian personalia”. (Malayu S. P. Hasibuan 2005:119)
Menurut F. Sikula mengemukakan bahwa “kompensasi adalah segala sesuatu yang dikonstitusikan atau dianggap sebagai suatu balas jasa atau equivalen”. (Malayu S. P. Hasibuan 2005:119)
2. Pengertian Insentif
Ada beberapa pengertian insentif yang dikemukakan oleh para ahli, diantaranya yang dikemukakan oleh Harsono ( 1983 :128) bahwa insentif adalah setiap sistem kompensasi dimana jumlah yang diberikan tergantung dari hasil yang dicapai yang berarti menawarkan suatu insentif kepada pekerja untuk mencapai hasil yang lebih baik. Sementara itu menurut Heidjrachman dan Husnan ( 1992 :161) mengatakan bahwa pengupahan insentif dimaksudkan untuk memberikan upah atau gaji yang berbeda. Jadi dua orang karyawan yang mempunyai jabatan yang sama bisa menerima upah yang berbeda dikarenakan prestasi kerja yang berbeda.
“Insentif sebagai sarana motivasi dapat diberikan batasan perangsang ataupun pendorong yang diberikan dengan sengaja kepada pekerja agar dalam diri mereka timbul semangat yang lebih besar untuk berprestasi bagi organisasi.”(Sarwoto, 1983 :144)
Jadi pada dasarnya insentif merupakan suatu bentuk kompensasi yang diberikan kepada karyawan yang jumlahnya tergantung dari hasil yang dicapai baik berupa finansial maupun non finasial. Hal ini dimaksudkan untuk mendorong karyawan bekerja lebih giat dan lebih baik sehingga prestasi dapat meningkat yang pada akhirnya tujuan perusahaan dapat tercapai.
B. Tujuan Insentif
Tujuan utama dari pemberian insentif kepada karyawan pada dasarnya adalah untuk memotivasi mereka agar bekerja lebih baik dan dapat menunjukkan prestasi yang baik. Cara seperti ini adalah cara yang sangat efektif untuk meningkatkan hasil produksi perusahaan. Menurut pendapat Heidjrachman dan Husnan (1992 : 151) mengatakan bahwa pelaksanaan sistem upah insentif ini dimaksudkan perusahaan terutama untuk meningkatkan produktivitas kerja karyawan dan mempertahankan karyawan yang berprestasi untuk tetap berada dalam perusahaan.
Berdasarkan pendapat di atas maka dapat disimpulkan bahwa tujuan dari pemberian insentif, yaitu:
1.Bagi perusahaan
Tujuan pelaksanaan pemberian insentif kepada karyawan dimaksudkan untuk meningkatkan produksi dengan cara mendorong mereka agar bekerja disiplin dan semangat yang lebih tinggi dengan tujuan menghasilkan kualitas produksi yang lebih baik serta dapat bekerja dengan menggunakan faktor produksi seefektif dan seefisien mungkin.
2.Bagi karyawan
Dengan pemberian insentif dari perusahaan maka diharapkan karyawan memperoleh banyak keuntungan, seperti misalnya mendapatkan upah atau gaji yang lebih besar, mendapat dorongan untuk mengembangkan dirinya dan berusaha bekerja dengan sebaik – sebaiknya.
C. Sasaran Insentif
Sasaran yang di capai adalah :
1. Mampu memberikan motivasi kepada karyawan
2. Dengan pemberian motivasi menjadikan karyawan dapat menegembangkan dirinya dengan baik.
D. Factor Penghambat
Beberapa kesulitan dalam sistem penentuan insentif kerja menurut Heidjracjman Ranupandoyo dkk. (1986), yaitu (Anwar Prabu Mangkunegara 20O2:89) sebagai berikut :
a. Beberapa alat pengukur dari berbagai prestasi karyawan haruslah dapat dibuat secara tepat, bisa diterima dan wajar.
b. Berbagai alat pengukur tersebut haruslah dihubungkan dengan tujuan perusahaan yang telah ditetapkan
c. Data yang menyangkut berbagai prestasi haruslah dikumpulkan tiap hari, minggu atau, bulan.
d. Standar yang ditetapkan haruslah mempunyai kadar atau tingkat kesulitan yang sama untuk setiap kelompok kerja.
e. Gaji/upah total dari upah pokok plus bonus yang diterima, haruslah konsisten diantara berbagai kelompok pekerjaan yang menerima insentif, dan antara kelompok yang menerima insentif dan yang tidak menerima insentif.
f. Standar prestasi haruslah disesuaikan secara periodik, dengan adanya perubahan dalam prosedur kerja.
g. Berbagai reaksi karyawan terhadap sistem pengupahan insentif yang kita lakukan juga harus sudah diperkirakan.
E. Penyelesaian Masalah
Selanjutnya Heidjracjman Ranupandoyo dkk. (1986), menjelaskan, beberapa sifat dasar dari insentif yang harus dipenuhi agar sistem upah insentif tersebut dapat berhasil, (Anwar Prabu Mangkunegara 2002:89) yaitu :
a. Pembayaran hendaknya sederhana sehingga dapat dimengerti dan dihitung oleh karyawan sendiri.
b. Penghasilan yang diterima buruh hendaknya langsung menaikan output dan efisiensi.
c. Pembayarannya hendaknya dilakukan secepat mungkin.
d. Standar kerja hendaknya ditentukan dengan hati-hati. Standar kerja yang terlalu tinggi atau terlalu rendah sama tidak baiknya.
e. Besarnya upah normal dengan standar kerja perjam hendaknya cukup merangsang pekerja untuk bekerja lebih giat.
Menurut Panggabean (2002:92) syarat tersebut adalah:
1. Sederhana, peraturan dari sistem insentif harus singkat, jelas dan dapat di mengerti.
2. Spesifik, karyawan harus mengetahui dengan tepat apa yang diharapkan untuk mereka lakukan.
3. Dapat dicapai, setiap karyawan mempunyai kesempatan yang masuk akal untuk memperoleh sesuatu.
4. Dapat diukur, sasaran yang dapat diukur merupakan dasar untuk menentukan rencana insentif. Program dolar akan sia-sia (dan program evaluasi akan terhambat), jika prestasi tertentu tidak dapat dikaitkan dengan dolar yang dibelanjakan.
pembuatan krupuk alpukat
Diposting oleh: rumah kita - Rabu, 28 November 2012
BAB
I
PENDAHULUAN
A.
LatarBelakang
Nama alpokat atau alvokad (daribahasaInggris, avocado) berasal dari bahasaAztek, ahuacatl
(dibacakira-kira "awakatl"). Suku Aztek berada di daerah Amerika
Tengah dan Meksiko. Karena itu, buah ini pada awalnya dikenal di daerah tersebut.
Pada saat pasukan Spanyol memasuki wilayah tersebut sekitar awal abad ke-16,
berbagai tumbuhan dari daerah ini, termasuk alpokat, diperkenalkan kepada penduduk
Eropa. Orang pertama yang memperkenalkan buah
alpokat kepada penduduk Eropa yaitu Martín Fernández de Enciso, salah seorang
pemimpin pasukan Spanyol.Dia memperkenalkan buah ini pada tahun 1519 kepada
orang-orang Eropa.Pada saat yang sama juga, para pasukan Spanyol yang menjajah Amerika
Tengah juga memperkenalkan kakao, jagung, dan kentang kepada masyarakat Eropa. Sejak itulah buah alpokat mulai
disebar dan dikenal oleh banyak penduduk dunia. Alpokat diperkenalkan ke
Indonesia oleh Belanda pada abad ke-19.
Apokat (KBBI: Avokad), alpukat, atau Perseaamericana ialah
tumbuhan penghasil buah meja dengan nama sama. Tumbuhan ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah dan kini banyak dibudidayakan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah sebagai tanaman perkebunan monokultur
dan sebagai tanaman pekarangan di daerah-daerah tropika lainnya di dunia.Pohon, dengan batang mencapai tinggi
20 m dengan daun sepanjang 12 hingga 25 cm. Bunganya tersembunyi dengan warna hijau
kekuningan dan ukuran 5 hingga 10 milimeter.
Ukurannya bervariasi
dari 7 hingga 20 sentimeter, dengan massa 100 hingga 1000 gram; biji yang
besar, 5 hingga 6,4 sentimeter. Buahnya bertipebuni, memiliki kulit
lembut tak rata berwarna hijau tua hingga ungu kecoklatan, tergantung pada varietasnya.
Daging buah alpokat berwarna hijaumuda dekat kulitdan kuningmuda dekat biji,
dengan tekstur lembut.
B. Permasalahan
Adapun yang menjadi
Masalah dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa itu buah Alpukat?
2. Apa saja kandungan yang terdapat dalam Alpukat?
3. Apa Manfaat alpukat bagi tubuh manusia?
4. Apa manfaat buah alpukat dalam bidang Industri?
5. Bagaimana cara Pengolahan alpokat menjadi Kerupuk alpukat?
C. Tujuan
Makalah
Yang menjadi tujuan
dari makalah ini adalah :
1. Untuk mengetahui apa itu buah alpukat
2. Untuk mengetahui kandungan yang terdapat dalam alpukat
3. Untuk mengetahui Manfaat alpukat bagi tubuh manusia
4. Untuk mengetahui manfaat alpukat dalam bidang Industri
5. Untuk mengetahui cara pembuatan kerupuk dari alpukat
BAB II
PEMBAHASAN
A. Pengertian
Alpukat
Alpukat, atau Persea
americana ialah tumbuhan penghasil buah meja dengan nama sama. Tumbuhan ini berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah dan kini banyak dibudidayakan di Amerika Selatan dan Amerika Tengah sebagai tanaman perkebunan
monokultur dan sebagai tanaman pekarangan di daerah-daerah tropika lainnya di dunia.
Pohon, dengan batang mencapai tinggi 20 m dengan daun sepanjang 12
hingga 25 cm. Bunganya tersembunyi dengan warna hijau kekuningan dan ukuran 5
hingga 10 milimeter. Ukurannya bervariasi dari 7 hingga 20 sentimeter, dengan
massa 100 hingga 1000 gram; biji yang besar, 5 hingga 6,4 sentimeter.
Buahnya bertipe buni, memiliki
kulit lembut tak rata berwarna hijau tua hingga ungu kecoklatan, tergantung
pada varietasnya. Daging buah apokat berwarna hijau muda dekat kulit dan kuning
muda dekat biji, dengan tekstur lembut.
B. Kandungan buah
Alpukat
Alpukat termasuk
buah yang istimewa karena mengandung lemak 20-30 kali lebih banyak dibandingkan
dengan buah-buahan lainnya. Kandungan lemak ini dapa tmemberikan energi yang
cukup ketika dikonsumsi. Jenislemak yang dikandungnya adalah lemak takjenuh,
yang kebetulan mudah dicerna dan berguna bagi tubuh. Dengan demikian, alpukat menyedikan
energi yang cukup tinggi dibalik rasanya yang gurih dan lezat serta tidak pahit.
proses pengolahan teh hijau
Diposting oleh: rumah kita -
TEH DAN
PENGOLAHANNYA
A.
Proses Pengolahan Teh Hijau
Pengolahan
teh hijau telah dikenal sejak lama namun dilaksanakan dengan peralatan dan
teknologi yang sederhana. Oleh karena itu, jenis teh hijau yang dihasilkan
masih belum sesuai dengan standar mutu permintaan pasar. Teh hijau merupakan
pucuk daun muda tanaman teh yang diolah tanpa melalui proses fermentasi. Untuk
memperoleh produk yang sesuai dengan permintaan pasar maka pengolahan teh hijau
dilaksanakan dengan teknologi yang lebih maju. Namun pada dasarnya, pengolahan
teh hijau itu merupakan rangkaian proses fisik dan mekanis tanpa atau dengan
sedikit proses fermentasi terhadap pucuk teh dengan menggunakan sistem panning
atau sangray.
1.
Penyediaan Bahan Baku
Kegiatan
penyediaan bahan baku ini meliputi pemetikan, pengangkutan dan penerimaan
pucuk.
a. Pemetikan
Pemetikan
adalah pekerjaan memungut sebagian dari tunas-tunas teh beserta daunnya yang
masih muda, untuk kemudian diolah menjadi produk teh kering yang merupakan
komoditi perdagangan. Pemetikan harus dilakukan berdasarkan ketentuan-ketentuan
sistem petikan daun dan syarat-syarat pengolahan yang berlaku. Pemetikan
berfungsi pula sebagai usaha membentuk kondisi tanaman agar mampu berproduksi
tinggi secara berkesinambungan. Ada dua
macam ranting daun yang
dipetik dan digunakan dalam pengolahan teh, yaitu ranting peko dan
ranting burung. Jika dianalisa maka ranting peko akan menghasilkan teh hijau
dengan kualitas lebih baik daripada rantai burung. Rantai peko adalah ranting
yang masih kuncup, masih tergulung dan tumbuh aktif. Sedangkan ranting burung
adalah ranting yang tidak memiliki kuncup dan merupakan ranting yang tidak
aktif atau dorman.
Tabel Komposisi Katekin dan
Kafein Berdasarkan Letak Daun
|
Jenis daun / batang
|
Katekin (%)
|
Kafein (%)
|
|
Peko
Daun I
Daun II
Daun III
Batang atas
Batang bawah
|
26,5
25,9
20,7
17,1
11,1
5,3
|
4,7
4,2
3,5
2,9
2,5
1,4
|
Jenis
Pemetikan
Pemetikan
menurut waktunya ada tiga jenis, yaitu:
a. Petikan Jendangan
Petikan jendangan merupakan petikan yang dilakukan sekitar 1 bulan
setelah tanaman dipangkas.
b. Petikan Biasa
Setelah 2-2,5 bulan dilakukan petikan jendangan, akan
tumbuh tunas tersier dan bentuk tanaman rata. Kemudian dilakukan petikan biasa
dimana giliran petik dilakukan antara 10-11 hari dan berlangsung sampai dilakukan
pemangkasan berikutnya, yaitu 3 tahun.
c.
Petikan Gandesan
Tanaman
yang terus-menerus dipetik akan semakin menurun produksinya. Untuk
mempertahankannya, dilakukan pemangkasan. Pemangkasan ini berjarak 3 tahun
setelah pemangkasan pertama. Sebelum diadakan pemangkasan biasanya masih
terdapat pucuk-pucuk yang masih bisa dipetik. Pemetikan pucuk-pucuk tersebut disebut
pemetikan gandesan
Jenis Petikan
Jenis
petikan adalah macam pucuk yang dihasilkan dari pelaksanaan pemetikan. Jenis
petikan menurut cara konvensional dapat dilihat pada Tabel 2.4.
Tabel Sistem Petikan
Menurut Cara Konvensional
|
No.
|
Sistem petikan
|
Rumus petikan
|
Keterangan
|
|
1
2
3
4
5
6
|
Imperial
Halus sekali
Halus
Sedang/Medium
Kasar
Kasar sekali
|
p/...
p+1/k+1 atau p+1/k+2
a.
p+2/k+1 berikut b+1/k+1
p+2/k+1berikut p+3m/k+1 dan
b+1/k+1
p+3/k+1 berikut b+1/k+1
p+4/k+1 berikut b+1/k+1
|
p = pucuk peko
k = kepel
b = pucuk burung
m = daun muda
|
Pengangkutan Pucuk
Pengangkutan pucuk
merupakan kegiatan mengangkut pucuk dari
kebun ke pabrik. Sebelum melaksanakan proses pengolahan, pucuk teh harus dalam
keadaan baik, artinya keadaannya tidak mengalami perubahan selama pemetikan
sampai ke lokasi pengolahan. Hal ini sangat penting untuk mendapatkan teh yang
bermutu tinggi. Oleh karena itu, proses pengangkutan memiliki peranan yang
sangat penting.
Hal yang dilakukan untuk mencegah
kerusakan daun untuk antara lain:
a. Jangan terlalu menekan daun agar daun tidak
terperas.
b. Dalam
membongkar daun, jangan menggunakan barang-barang dari besi atau yang tajam agar daun tidak robek atau patah.
c. Hindari terjadinyan penyinaran terik matahari
dalam waktu lama, lebih dari 3 jam.
d. Jangan menumpuk daun sebelum dilayukan dalam
waktu yang lama (daun segera dilayukan)
Penerimaan Pucuk
Pucuk
yang sudah sampai di pabrik harus segera diturunkan dari truk untuk menghindari
kerusakan pucuk, selanjutnya pucuk akan segera ditimbang dan diangkut ke
whitering through untuk dilayukan.
makalah perencanaan dan pengembangan produk
Diposting oleh: rumah kita -
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Desain produk merupakan hal yang sangat
penting dalam bidang manufaktur. Desain produk yang baik akan dapat
meningkatkan jumlah dan harga jual dari produk, sehingga dapat meningkatkan
keuntungan. Akan tetapi, desain produk yang gagal mengakibatkan produk tidak
terjual. Hal ini, akan menimbulkan kerugian tidak hanya dibidang desain saja,
bidang yang lain pun akan terkena pengaruhnya.
Desain produk yang baik, harus memenuhi 3
(tiga) aspek penting yang sering disebut segitiga aspek produk, yaitu kualitas
yang baik, biaya rendah, dan jadwal yang tepat.
Selanjutnya segitiga aspek produk di atas
dikembangkan menjadi suatu persyaratan dalam desain, yaitu desain harus dapat
dirakit, didaur ulang, diproduksi, diperiksa hasilnya, bebas korosi, biaya
rendah, serta waktu yang tepat. Untuk itu dalam mendesain suatu produk, harus
memperhatikan secara detail tentang fungsi-fungsi dari produk yang didesain.
Guna mengetahui secara rinci tentang fungsi produk, dapat dilakukan dengan
beberapa metode pendekatan, mulai dari metode yang sederhana hingga metode yang
advance
B.
Tujuan
Penulisan
Pada
penulisan makalah ini, tentunya mempunyai tujuan sebagai berikut:
1. Untuk mengetahui perencanaan pengembangan
produk
2. Untuk mengetahui proses perencanaan pengembangan
produk
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Pengertian
Perencanaan Produk
Perencanaan produk adalah proses menciptakan ide
produk dan menindaklanjuti sampai produk diperkenalkan ke pasar. Selain itu,
perusahaan harus memiliki strategi cadangan apabila produk gagal dalam
pemasarannya. Termasuk diantaranya ekstensi produk atau perbaikan, distribusi,
perubahan harga dan promosi.
Kesuksesan ekonomi suatu perusahaan
manufaktur tergantung kepada kemampuan untuk mengidentifikasi kebutuhan
pelanggan, kemudian secara cepat menciptakan produk yang dapat memenuhi
kebutuhan tersebut dengan biaya yang rendah. Hal ini bukan merupakan tanggung
jawab bagian pemasaran, bagian manufaktur,attau bagian desain saja, melainkan
merupakan tanggung jawab yang melibatkan banyak fungsi yang ada di perusahaan.
Metode pengembangan produk berdasarkan kepada permintaan atau persyaratan serta
spesifikasi produk oleh customer adalah metode yang cukup baik, karena dengan
berbasis keinginan customer maka kemungkinan produk tersebut tidak diterima
oleh customer menjadi lebih kecil.
Dari sudut pandang investor pada
perusahaan yang berorientasi laba, usaha pengembangan produk dikatakan sukses
jika produk dapat diproduksi dan dijual dengan menghasilkan laba.Namun laba
seringkali sulit untuk dinilai secara cepat dan langsung.
Terdapat 5 dimensi spesifik yang
berhubungan dengan laba dan biasa digunakan untuk menilai kinerja usaha
pengembangan produk, yaitu:
1.
Kualitas Produk
Seberapa baik produk yang dihasilkan dari upaya pengembangan
dan dapat memuaskan kebutuhan pelanggan. Kualitas produk pada akhirnya akan
mempengaruhi pangsa pasar dan menentukan harga yang ingin dibayar oleh
pelanggan.
2. Biaya Produk
Biaya untuk modal peralatan dan alat bantu serta biaya
produksi setiap unit disebut biaya manufaktur dari produk. Biaya produk
menentukan berapa besar laba yang dihasilkan oleh perusahaan pada volume
penjualan dan harga penjualan tertentu.
3.
Waktu Pengembangan Produk
Waktu pengembangan akan menentukan kemampuan perusahaan
dalam berkompetisi, menunjukkan daya tanggap perusahaan terhadap perubahan
teknologi dan pada akhirnya akan menentukan kecepatan perusahaan untuk menerima
pengembalian ekonomis dari usaha yang dilakukan tim pengembangan.
4.
Biaya Pengembangan
Biaya pengembangan biasanya merupakan salah satu komponen
yang penting dari investasi yang dibutuhkan untuk mencapai profit.
5.
Kapabilitas Pengembangan.
Kapabilitas pengembangan merupakan asset yang dapat
digunakan oleh perusahaan untuk mengembangkan produk dengan lebih efektif dan
ekonomis dimasa yang akan datang.
Perancangan dan pembuatan suatu produk
baik yang baru atau yang sudah ada merupakan bagian yang sangat besar dari
semua kegiatan teknik yang telah ada. Kegiatan ini didapat dari persepsi
tentang kebutuhan manusia, kemudian disusul oleh penciptaan suatu konsep
produk, perancangan produk, pengembangan dan penyempurnaan produk, dan diakhiri
dengan pembuatan dan pendistribusian produk tersebut.
Di dalam suatu produk yang akan dikembangkan, tiap – tiap
elemen suatu produk mempunyai fungsi – fungsi sendiri. Diantara fungsi – fungsi
satu dengan yang lain terkadang ada saling terkait, sehingga suatu fungsi
komponen akan menentukan fungsi komponen lainnya.
Secara
umum penentuan fungsi produk dapat dicari dengan dua langkah, yaitu :
- Identifikasi dan penyusunan fungsi produk.
- Pengelompokan fungsi produk.
Proses adalah merupakan urutan
langkah-langkah pengubahan sekumpulan input menjadi sekumpulan output.Proses
Pengembangan produk adalah langkah-langkah atau kegiatan-kegiatan di mana suatu
perusahaan berusaha untuk menyusun , merancang, dan mengkomersialkan suatu
produk.
Pengembangan produk adalah kegiatan
interdisiplin yang membutuhkan kontribusi hamper semua bagian di perusahaan,
namun ada 3 bagian yang memegang peranan penting, yaitu:
1.
Marketing
Fungsi marketing
menjadi jembatan antaraperusahaan dan pelanggan. Marketin mengidentifikasi
peluang sebuah produk, segmentasi pasar, dan identifikasi kebutuhan pelanggan.
Marketing juga menentukan target harga, memimpin peluncuran dan promosi produk.
2.
Design
Fungsi desain
memainkan peranan utama dalam menentukan bentuk fisik produk. Fungsi ini
termasuk engineering design(mechanical, electrical, software, dll) dan
ndustrial design(aesthetics, ergonomics, user interface, dll)
3.
Manufacturing
Fungsi manufactur bertanggungjawab
untuk mendesain dan mengoperasikan system produksi untuk memproduksi produk.
Temasuk dalam fungsi ini adalah purchasing, distribution, dan instalasi.
Proses perencanaan produk dilakukan sebelum suatu
proyek pengembangan produk secara formal disetujui, sumber daya yang penting
dipakai dan sebelum tim pengembang yang lebih besar dibentuk. Perencanaan
produk merupakan suatu kejadian yang mempertimbangkan portofolio suatu proyek,
sehingga suatu organisasi dapat mengikuti dan menetukan bagian apa dari proyek
yang akan diikuti selama periode tertentu. Kegiatan perencanaan produk
menjamin bahwa proyek pengembangan produk mendukung strategi bisnis perusahaan
yang lebih luas dan menentukan:
- Proyek-proyek pengembangan produk apa yang akan dilakukan.
- Kombinasi pengembangan produk (produk baru, produk platform, atau produk turunan).
- Keterkaitan antar proyek dalam suatu portofolio.
- Waktu dan urutan proyek.
Setiap proyek terpilih
dilengkapi dengan tim pengembang produk. Tim ini harus mengetahui misi proyek
sebelum dimulai pengembangan. Misi setiap proyek seharusnya memuat:
a. Segmen pasar yang dapat dipertimbangkan
untuk merancang dan mengembangkan produk.
b. Teknologi yang digunakan.
c. Target proyek secara finansial.
d. Anggaran dan deadline proyek.
Langganan:
Postingan (Atom)